Pemprov Lampung Belum Bisa Pastikan Kapan Dampak Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau Berakhir
Gunung Anak Krakatau (GAK) di perairan Selat Sunda kembali mengalami erupsi pada hari ini, Selasa (8/9/2026) pagi.
Berdasarkan laporan MAGMA Indonesia Kementerian ESDM periode pengamatan pukul 00.00-06.00 WIB, tercatat dua kali gempa letusan/erupsi di GAK.
Oleh sebab itu, Pemerintah Provinsi Lampung belum dapat memastikan kapan dampak sebaran abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau akan berakhir.
Hal ini disebabkan kondisi penyebaran abu masih sangat bergantung pada aktivitas erupsi gunung api tersebut. Jika erupsi susulan kembali terjadi, maka dampak abu vulkanik berpotensi terus berlanjut.
Wakil Gubernur Lampung, Jihan Nurlela, menjelaskan bahwa meskipun aktivitas Gunung Anak Krakatau saat ini terpantau menurun, residu dari erupsi sebelumnya masih bertahan di atmosfer maupun permukaan.
Oleh karena itu, dampaknya hingga kini masih terus dalam pemantauan ketat.
”Yang jelas dalam pemantauan, seperti yang kemarin disampaikan bahwa ada aktivitas yang menurun. Tapi residu dari erupsi, dampak vulkanik itu masih akan terus ada dan dalam pemantauan sampai dengan dua hari ini,” kata Jihan.
Jihan menambahkan, perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau dipantau secara berkala setiap enam jam sekali. Hasil pemantauan ini menjadi dasar untuk melihat dinamika aktivitas gunung sekaligus memprediksi dampak yang mungkin terjadi.
”Jika ada erupsi lagi, tentu akan ada perpanjangan dampak dari abu vulkanik tersebut. Memang itu erupsi dan ada pemantauan setiap enam jam, jadi dalam kurun waktu tersebut baru bisa diprediksi setiap waktu,” ujarnya.
Selain itu, Kepala Koordinator Wilayah Lampung BMKG Stasiun Meteorologi Kelas I Radin Inten II Lampung, Nanang Buchori, menyampaikan bahwa konsentrasi abu vulkanik di atmosfer masih menjadi perhatian utama pihaknya.
Nanang menyebutkan bahwa air (hujan) merupakan salah satu faktor paling efektif untuk membantu meredakan dan mengurangi sebaran abu vulkanik di udara.
Namun, pelaksanan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk menghasilkan hujan buatan saat ini belum memungkinkan untuk dilakukan.
”Lawannya cuma air, kalau tidak ada air agak susah. Air, angin baru reda dikit. Cuma untuk melakukan OMC gak mungkin dalam waktu ini,” kata Nanang.
Ia menjelaskan, banyaknya abu vulkanik yang masih melayang di atmosfer menjadi kendala utama karena membahayakan penerbangan pesawat yang digunakan untuk penerbangan OMC.
”Masih banyak abu vulkanik di atmosfer sehingga pelaksanaan OMC menggunakan pesawat menghadapi kendala,” pungkasnya.
