Mengapa ASN yang Dulu Banyak Ide, Lama-lama Jadi “Ya Sudahlah”?
Ada kalanya kita perlu bertanya: mengapa ada Aparatur Sipil Negara (ASN) yang perlahan menjadi apatis dan tidak lagi peduli pada lingkungannya?
Padahal, bisa jadi mereka adalah orang-orang yang dulunya sangat peduli, namun terlalu sering merasa tidak didengar.
Tentu, ini bukan pembenaran bagi seorang ASN untuk bersikap acuh tak acuh. ASN tetap memiliki tanggung jawab untuk bekerja secara profesional, berintegritas, dan berani menyuarakan hal yang benar. Namun, organisasi juga perlu bercermin: apakah selama ini sudah memberikan ruang yang aman bagi pegawainya untuk bersuara?
Seseorang tidak mendadak menjadi malas tanpa alasan. Ada proses dan dinamika yang terjadi sepanjang perjalanan kariernya.
Dari Semangat Membara Menjadi Lempar Handuk:
Pada awalnya, banyak ASN masuk dengan niat dan semangat besar. Ketika melihat ada hal yang kurang tepat, mereka ingin memberi saran. Ketika melihat pekerjaan yang berantakan, mereka tergerak untuk ikut membereskannya dengan harapan bisa memberikan dampak positif.
Namun, perlahan lingkungan merespons dengan cara yang mematahkan semangat:
Berpendapat dianggap terlalu banyak bicara.
Mengkritik dianggap mencari-cari kesalahan.
Berbeda pandangan dianggap tidak sejalan atau tidak loyal.
Mencoba inovasi baru, lalu gagal, malah dijadikan bahan untuk disalahkan.
Meskipun sudah berulang kali diabaikan, pada awalnya mereka mungkin masih berharap suaranya akan didengar. Namun, jika pengalaman pahit itu terus berulang, pikiran “Sudahlah” dan mulai mengambil alih.
Ketika Diam Menjadi Pilihan Pada akhirnya:
Orang yang dulu paling rajin bertanya, kini menjadi yang paling banyak diam.
Orang yang dulu kaya akan ide, kini cukup mengerjakan tugas seadanya.
Orang yang dulu berani mengingatkan, kini memilih untuk “aman” saja.
Dari luar, organisasi mungkin terlihat lebih tertib dan kondusif. Padahal yang sebenarnya terjadi, pegawai tersebut hanya sedang merasa lelah. Sebelum pimpinan bertanya, “Kenapa sekarang dia pasif?”, ada baiknya bertanya terlebih dahulu pada diri sendiri: “Jangan-jangan, dulu dia pernah bicara, tapi kita tidak pernah benar-benar mendengarkannya?”
Diamnya seorang pegawai bukan selalu tanda hilangnya kepedulian. Bisa jadi, itu tanda bahwa organisasi sudah terlalu lama kehilangan telinga untuk mendengar.
Kerugian Besar Bagi Organisasi
Jika suatu hari ada ASN yang mulai jarang bicara, jangan terburu-buru menyimpulkan dia tidak lagi peduli. Coba tanyakan: “Apa yang membuatnya memilih untuk diam?”
Organisasi yang sehat bukanlah organisasi yang semua anggotanya selalu mengangguk setuju.
Organisasi yang sehat adalah wadah yang membuat anggotanya tetap berani menyampaikan kebenaran, meskipun pendapat mereka berbeda.
Ketika semua orang akhirnya berprinsip “yang penting tugas saya selesai”, suasana memang terlihat tenang. Namun, organisasi sebenarnya sedang kehilangan hal-hal yang paling berharga: ide segar, keberanian, kepedulian, dan dorongan untuk bertransformasi.
Catatan untuk Kepemimpinan
Seorang pimpinan memang tidak harus selalu menyetujui pendapat bawahannya. Namun, bawahan juga tidak boleh merasa takut dihukum hanya karena memiliki sudut pandang yang berbeda.
Jika setiap kritik dianggap sebagai serangan, orang akan belajar untuk bungkam.
Jika setiap perbedaan dianggap sebagai ketidakloyalan, orang akan belajar untuk sekadar ikut arus.
Ketika orang-orang yang peduli akhirnya memilih diam, bukan hanya mereka yang rugi. Organisasi pun kehilangan kesempatan emas untuk tumbuh menjadi lebih baik.
Jangan sampai kita kehilangan orang-orang terbaik, hanya karena mereka terlalu lama dibiarkan berbicara sendiri.
by…ky
