KH Miftachul Akhyar dan KH Abdul Hakim Mahfudz Terpilih Pimpin PBNU Lima Tahun Kedepan.
Muktamar Ke-35 Nahdlatul Ulama yang diselenggarakan di Ponpes Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, secara resmi telah menetapkan kepemimpinan baru Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) untuk masa khidmat lima tahun ke depan.
Dalam forum musyawarah tertinggi organisasi tersebut, KH Miftachul Akhyar ditetapkan sebagai Rais ‘Aam PBNU, sementara KH Abdul Hakim Mahfudz dipercaya menduduki amanah sebagai Ketua Umum PBNU. Terpilihnya kedua tokoh ulama ini merupakan hasil kesepakatan akhir dari seluruh rangkaian proses Muktamar Ke-35 NU.
Dengan penetapan kepengurusan baru ini, kepemimpinan duet KH Miftachul Akhyar dan KH Abdul Hakim Mahfudz diharapkan mampu membawa PBNU semakin solid serta memperkuat kontribusi keumatan dan kebangsaan selama lima tahun ke depan.
Duet KH Miftachul Akhyar sebagai Rais ‘Aam (pemimpin tertinggi spiritual) dan KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin) sebagai Ketua Umum (pemimpin eksekutif) menyajikan kombinasi struktur kepemimpinan yang sangat bernilai bagi organisasi.
Kembalinya figur ulama pesantren yang kuat seperti Gus Kikin, yang juga Pengasuh Pesantren Tebuireng Jombang, menegaskan kembali komitmen PBNU untuk menjaga khittah, tradisi keilmuan Islam inklusif, dan kedekatan emosional dengan akar rumput (warga Nahdliyin).
Di luar aspek keagamaan, tantangan utama PBNU lima tahun ke depan terletak pada tata kelola organisasi modern, kemandirian ekonomi umat, serta optimalisasi teknologi untuk pelayanan dakwah dan pendidikan.
Kepemimpinan baru ini dituntut untuk terus memosisikan NU sebagai pilar wasathiyah (moderasi beragama) yang konsisten menjaga persatuan nasional di tengah arus polarisasi sosial-politik.
Secara keseluruhan, hasil musyawarah ini tidak hanya menjadi penanda suksesnya regenerasi di tubuh PBNU, tetapi juga harapan baru agar Nahdlatul Ulama semakin adaptif, responsif, dan menghadirkan kemaslahatan nyata bagi bangsa.
