Tumpul ke Atas, Tajam ke Bawah: Cermin Retak Keadilan Hukum Kita.

Oplus_131072

Realitas pahit yang sudah lama dirasakan masyarakat kita,  dimana perlakuan hukum yang jauh berbeda antara rakyat kecil dan pejabat berkuasa.

“Sama-sama maling, tapi lihat beda nasib mereka” memotret kontras tajam antara kejahatan karena kebutuhan perut dan kejahatan karena ketakserakahan kekuasaan.

Kontras pahit dalam potret keadilan ​rakyat kecil (Mencuri Demi Bertahan Hidup): Karakter pencuri kayu bakar atau pencuri seekor ayam menggambarkan mereka yang terdesak kemiskinan.

Kasus-kasus kecil seperti ini tak jarang berujung pada proses hukum yang cepat, vonis berat, bahkan perlakuan fisik yang keras tanpa ada ruang kompromi.

​Koruptor elit (Mencuri Hak Rakyat): Di sisi lain, pejabat bereragam resmi atau koruptor bermodal besar kerap menikmati “keistimewaan” hukum. Proses penyidikan yang berlarut-larut, hukuman yang didiskon, hingga fasilitas sel yang nyaman menjadi pemandangan lazim yang menyakiti rasa keadilan publik.

Akar masalah dan dampaknya

​Ketimpangan ini menunjukkan bahwa penegakan hukum kita masih acap kali memandang siapa pelakunya, bukan seberapa besar dampak kejahatannya.

Ketika pencuri ayam diancam hukuman bertahun-tahun sementara koruptor miliaran rupiah hanya mendapat vonis ringan, hukum telah kehilangan fungsi utamanya sebagai pengayom masyarakat.

​Kondisi ini memicu krisis kepercayaan yang berbahaya. Ketika masyarakat menganggap keadilan bisa dibeli oleh jabatan dan uang, maka jargon “semua warga negara setara di mata hukum” hanyalah slogan kosong di atas kertas.

Penegakan hukum butuh pembenahan mendasar, bukan hanya pada regulasi, tetapi pada integritas para penegak hukum itu sendiri.